Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Tuesday, 18 April 2017

Beli barang di Online Shops

Pingin cari barang tapi ga ada yang jual di kota kita, kalaupun ada kok harganya mahal, jauh banget dengan budget yang tersedia, modelnya juga ga bisa milih lagi, stok terbatas. Ah.. beli online saja, cari yang jual paling murah,pilih model yang dikehendaki, dan ada gratis ongkirnya.

Sekilas itulah pergeseran yang mulai terjadi di masyarakat kita. Walau masih banyak yang alergi beli secara online, faktanya, jumlah transaksi secara online terus meningkat. Apalagi sekarang, banyak sekali marketplace berbasis aplikasi yang tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga banyak promo-promo, promo gratis ogkos kirim misalnya.

Jauh sebelum munculnya marketplace, jual beli online pun sebenarnya sudahlah ramai. Dulu, para seller menjual produknya melalui website, blog, kemudian calon membeli menghubungi seller via BBM, sms, atau langsung telepon. Jika deal, pembeli akan langsung transfer ke rekening seller, kemudian barang dikirim dan resi pun diinfokan ke pembeli.

Model ini cukup lama bertahan, bahkan hingga saat ini. Hanya, model jual beli semacam ini sangat rawan buat pembeli. Modus penipuan akan dengan mudah dipraktekkan oleh pihak-pihak yang bermain di air keruh. Jika kita telisik di google, sebagai contoh, modus penipuan online waktu itu sangat marak terjadi dengan online shops berkedok toko handphone yang mengaku dari daerah Bata* yang menawarkan produk sangat murah dengan beralasan sebagai barang black market. Seller penipu membuat website yang menampilkan foto-foto real toko yang seolah asli, kemudian tak lupa memposting testimoni-testimoni palsu agar pembeli terpikat. Pada akhirnya, tidak sedikit pembeli yang tergiur dan melakukan transfer langsung ke rekening penipu. Setelah uang ditransfer, seller tiba-tiba susah dihubungi, kemudian menghilang.

Forum terbesar di Indonesia, Kaskus keluar membeli solusi agar terhindar dari modus penipuan tersebut. Apalagi, Kaskus mempunyai forum jual beli yang sangat 'dewa' pada zamannya. Posting sebentar saja di FJB (forum jual beli) Kaskus, biasanya tak seberapa lama sudah ada calon pembeli yang menanyakan. Setidaknya seperti itu berdasarkan pengalaman penulis.

Kaskus menawarkan sebuah rekening bersama untuk keamanan bertransaksi. Metodenya, pembeli transfer dulu ke rekening bersama yang dikelola Kaskus atau pihak-pihak yang sudah punya track record bagus, penjual kemudian kirim barang (info no resi secara privat ke pembeli). Jika barang sudah diterima oleh pembeli dan tidak ada komplain, uang baru bisa dicairkan ke penjual. Penyedia jasa rekening bersama di kaskus ini biasanya mengutip uang jasa yang besarnya berbeda sesuai dengan jumlah total transaksi.

Dengan metode tersebut, pembeli akan terlindungi, penjual pun akan mengirimkan barang sesuai dengan yang ditawarkan. Jika tidak, pembeli bisa komplain dan transaksi bisa digagalkan, tentu dengan moderasi dari moderator Kaskus.

Metode yang dijalankan di Kaskus sayangnya serba manual. Di waktu yang tepat, Tokopedia masuk dengan menawarkan hal yang sama, tetapi dengan sistem serba otomatis dan yang menarik free biaya rekening bersama. Sudah bisa ditebak, lambat namun pasti, perlahan-lahan Tokopedia mulai menjadi primadona baru jualan online. Bukalapak kemudian menyusul, dan kemudian yang paling hot sekarang si Shopee.

Apakah belanja di marekplace 100% aman?
Adanya rekening bersama, membuat belanja di marketplace aman. Resiko barang tidak dikirim akan nihil. Jika barang tidak dikirim, uang akan dikembalikan 100%. Walau aman, ternyata masih ada celah permasalahan yang mungkin timbul, misalnya bagaimana jika barang yang dikirim tidak sesuai spesifikasi, sedikit catat, salah ukuran, etc yang pada pokoknya membuat pembeli dikecewakan? Jika boleh return, siapakah yang harus bayar ongkos kirim?

Pada saat sekarang, marketplace semacam Shopee. Tokopedia, dan Bukalapak, pada dasarnya adalah pihak yang memoderasi jika ada masalah. Marketplace sayangnya akan selalu berdiri di tengah dan menyarankan jika ada masalah hendaknya diselesaikan antar penjual dan pembeli secara musyawarah. Tak jarang, hasil musyawarah tidak mencapai mufakat, dan ketika permasalahan dikembalikan ke moderator, bisanya pihak seller yang diuntungkan. Dana tetap dicairkan dan pembeli hanya bisa kasih rating jelek untuk penjual atas ketidakpuasan.

Ini setidaknya yang dialami sendiri oleh penulis. Tidak sekali, tetapi beberapa kali. Penulis pernah order 6 buah produk di salah satu seller di Shopee. Oleh seller ternyata hanya dikirim 5 pc. Penulis komplain ke seller tentang permasalahan tersebut, tetapi seller ngotot yang dikirim 6 pc, sesuai catatan pembukuannya dikirim 6 pc. Penulis akhirnya komplain ke Shopee dan dianjurkan untuk menyelesaikan permasalahan secara musyarawah. Hasilnya, kembali ke titik awal, sama-sama ngotot pada pendirian dan tidak ketemu mufakat. Waktu kemudian berlalu, dan karena permintaan pengembalian dana tidak dikabulkan seller dalam jangka waktu tertentu, maka transaksi dianggap selesai. Jadilah rugi 1 pc penulis sebagai pihak pembeli. Penulis pada akhirnya hanya bisa memberi rating buruk untuk si seller sebagai hukuman atas keteledoran.

Pernah juga order baju, tetapi barang yang dikirim tidak sesuai dengan spesifikasi, sekilas photo nampak sama, tetapi tidak dengan detailnya. Sewaktu minta keadilan ke moderator, dikatakan moderator tidak bisa secara subjektif menilai produk dari warna, bau, dan detail bahan. Lagi-lagi disuruh bermusyawarah, seller nakal menang lagi.

Untuk lebih amannya, penulis sekarang hanya mau membeli produk di marketplace pada seller yang sudah bagus ratingnya. Setidaknya diatas 4 bintang, atau jika di poin pada rating 4.5 ke atas (skala 1-5), lebih bagus lagi minimal 4.8.

Apakah belanja langsung ke website penjual aman?
Selain via marketplace, banyak juga seller yang masih menjual via websitenya sendiri. Kita langsung transfer dan barang kemudian dikirim. Tips untuk aman belanja via toko online semacam ini adalah dengan cek dan recek terlebih dahulu.

Pertama, pastikan website mencantumkan kontak yang jelas. Nama toko, alamat lengkap, nomer hp, BBM, harus jelas. Kedua, Endus juga keaktifan seller di social media, seller yang menjual produk di website akan selalu memperbarui social medianya karena berfungsi sebagai online marketing dengan link-link ke arah websitenya. Cross cek info kontak di social media, apakah konsisten baik nama toko, nomer kontak, alamatnya sesuai dengan website.

Ketiga, cek keberadaan toko via google map. Google map sekarang dilengkapi dengan street view yang dapat memvisualkan dengan jelas fisik toko. Kalau sudah jelas spanduk, plang toko, alamat sesuai, masihkah takut tertipu ? Keempat, jangan lupa cek testimoninya di google mybusiness. Perhatikan review-review dari pembeli.

Dengan memperhatikan keempat hal tersebut, insya Allah belanja langsung ke website penjual aman.

Bagaimana cara paling aman belanja?
Cara paling aman belanja adalah langsung datang ke toko. Kita bisa melihat-lihat produk yang ditawarkan seller via online (webste, instagram, fb, twitter, etc), kemudian langsung menuju toko untuk mengecek produk secara fisik. Model semacam ini boleh dikatakan semi online. Ngertinya secara online, tetapi belinya langsung cod di toko pemilik website. 100% aman.

Mau pilih yang mana?

Thursday, 23 March 2017

Pengalaman Import Barang dari China

Dibukanya pasar bebas ASEAN dan China (ACFTA/ ASEAN China Free Trade Area) mau tidak mau membuat arus barang dari sumber yang murah (China) menyerbu pasar tanah air. China (sekarang disebut Tiongkok) memang sulit dibendung, kita maunya apa, mereka bisa buatkan.

Ingin produk dengan kualitas apapun bisa, semua tergantung budget kita. Jika dulu barang dari China dikenal berkualitas rendah dengan harga murah, sekarang mereka juga bisa membuat produk dengan kualitas sedang s.d tinggi dengan biaya produksi yang masih tergolong murah.

Tenaga kerja murah, produksi massal, dan sokongan pemerintah yang kuat membuat mereka begitu powerfull. Masih ingat tidak beberapa tahun yang lalu pemerintah Tiongkok sengaja merendahkan nilai tukar uang mereka?! Strategi di luar nalar dan dugaan, di saat negara-negara lainnya berjuang gigih mempertahankan/ menguatkan kurs mata uangnya, mereka malah menurunkannya. Ternyata, strategi ini untuk meningkatkan eksport barang mereka, produk made in Tiongkok pun banjir dimana-mana, tidak hanya di tanah air.

Cukup bersimpati dengan usaha pemerintah sekarang untuk meningkatkan daya saing, walau masih sangat sulit membendung produk Tiongkok, setidaknya usaha tersebut sudah pada rel yang benar. Pembangunan infrastruktur dalam jangka panjang akan menurunkan cost, adanya KUR bunga rendah dengan jaminan 'hanya' dengan usahanya merupakan angin segar bagi pengusaha UMKM. Kita berharap selanjutnya ada stabilitas di semua bidang, baik ekonomi, politik, sosbud, dan hankam.

Mungkin satu-satunya cara untuk mengerem invasi produk dari luar saat ini adalah dengan hanya mencintai produk-produk Indonesia. Seberapa kuat kita mencintai produk-produk dalam negeri? Ternyata, sangat berat prakteknya di lapangan, dan ini menjadi PR bersama. Sebagai contoh, saya akan berbagi pengalaman tentang hal tersebut.

Saya berdagang baik pakaian produksi lokal (beberapa produksi sendiri), maupun pakaian import. Pakaian import yang saya maksud adalah pakaian import yang bukan barang sisa, bukan barang rejeck, bukan barang yang disebut 'awul-awul' , tetapi barang produksi pabrik di Tiongkok yang memang ditujukan untuk eksport.

Pengalaman Import Barang dari Tiongkok / China
Sekarang ini pasti sering kita dengar banyak sekali seminar-seminar tentang cara import dari China, bagaimana memulainya, amankah, cara memilih barang, etc.. yang intinya mengajarkan cara dan keuntungan berbisnis barang import dari China. Secara garis besar, caranya kurang lebih sama dengan pengalaman penulis.

Pada medio 2012, saya dikenalkan oleh suplier pakaian di pusat grosir tanah abang dan ITC mangga dua dengan sebuah jenis produk pakaian yang bagus, tetapi dengan harga terjangkau. Saya mengambil beberapa kodi dan menjualnya di toko. Luar biasa, demand dari pelanggan sangat tinggi dan tak seberapa lama produk habis. Dilemanya sebagai pedagang, dimana ada profit, disitu akan terus dikejar.

Dua sampai tiga kali saya order ulang ke suplier. Sayang, saat hendak order yang keempat, barang sudah kosong dan dikatakan mungkin baru akan ada lagi 2-3 bulan lagi, itupun stok nanti dibatasi. Permintaan sangat tinggi, kulakan pun dibatasi. Imbasnya, barang yang masih ada di toko menjadi naik. Meski harga naik, permintaan masih saja tinggi. Saya pun memikirkan cara, bagaimana saya mendapat barang tersebut langsung dari negara asalanya. Tak apalah kena tangan kedua di negara produsen, kalau order di pabrik kan tidak mungkin. Tangan kedua pun siapa tahu juga lebih murah dari harga suplier dan lagi stok di suplier sering kosong dan berebut.

Saya lebih lanjut mencari informasi dengan googling. Setiap kali saya mencari produk-produk tersebut, selalu yang muncul adalah via situs Alibaba.com. Sangat powerfull sekali situs ini, dan ternyata saya baca review-review, Alibaba memang sedang menjadi marketplace top dunia. Di China, Alibaba dan Aliekpress merupakan raksasa dan market leader.

Iseng-iseng saya cari produk yang dimaksud dan chat dengan supliernya di aplikasi chat Alibaba (dikenal sebagai trade manager). Saya menanyakan deskripsi tentang produk yang saya maksud, apa kualitasnya, bagaimana detailnya, harga berapa, sistem pembayaran bagaimana, dan etc. Suplier menjelaskan dengan gamblang produk yang saya maksud, bahkan secara deduktif, dia langsung nembak saya dengan nama kualitas produk yang saya maksud. Pendek kata, suplier bisa menyediakan produk yang saya dapatkan di tanah abang/ mangga dua tersebut. Jika ditotal, harga barang adalah sama dengan harga yang saya dapatkan di suplier lokal. Bedanya, jika di suplier lokal harga belum termasuk ongkir, maka via sulier di Alibaba total harga barang sudah sampai toko saya alias door to door. Wow.. sudah lebih murah, barang stok bis milih lagi, saya pun melakukan order.

Karena baru pertama order dan ada 'rasa' takut tertipu, maka saya memutuskan order dalam jumlah kecil. Apalagi suplier maunya melayani order hanya dengan TT, moneygram, atau Western Union. Tidak mau ecrow (rekening bersama) karena prosesnya lama dan order kecil. Okelah, jika tertipu kurang dari 2 juta ta apalah, buat saya akan sebanding dengan jalan besar di depan mata jika seandainya barang benar-benar dikirim dan sesuai spesifikasinya.

Saya kirim order via email, semua dengan bahasa Inggris tentunya. Sangat mudah berbahasa Inggris dengan orang Tiongkok karena mereka sangat to the point dan pilihan katanya sederhana. Hanya sekitar bebarapa jam, email pun dibalas. Saya menggunakan jasa ekspedisi EMS yang tarifnya paling murah jika dibanding DHL, Fedex, atau jasa ekpedisi express swasta lainnya.

Jika menggunakan EMS akan ada ongkos bea cukai jika nilai barang sama atau lebih dari 500 $ US. Untuk mengakali biar tidak kena bea cukai, saya berpesan kepada suplier agar total belanja dibuat kurang dari nominal di atas. Paketnya kecil kok, jadi kalau dibilang kurang dari 500 $ masih nalar.

Pembayaran saya lakukan via Western Union. TT atau moneygram saya tidak mengerti mekanisnmenya. Jasa titip transfer belum tren waktu itu. Jika dengan Western Union, akan ada charge yang berbeda-beda sesuai dengan total transfer. Saya sudah mempertimbangkan charge tersebut dan sudah dimasukkan dalam komponen biaya. Cukup pergi ke kantor pos, isi aplikasi transfer Western Union, tak seberapa lama dipanggil untuk dikasih kode angka (saya lupa namanya) yang nantinya bisa diinfokan ke suplier untuk mencairkan dana yang kita transfer.

Setelah saya info kode angka tersebut, suplier langsung memvalidasinya. Setelah tervalidasi, barang yang saya order pun disiapkan. Butuh 3-4 hari katanya. Saya order sekitar 12 pcs saja, ya sekitar 3 kg lah dengan nilai hampir 2 juta-an. Pada hari ke-5 suplier menginfo saya barang sudah siap dan sekarang sedang dalam proses pengiriman ke ekspedisi (EMS, red).

Setelah barang dikirim, saya diberi no resi. Saya agak tenang setelah resi tersebut berhasil di index di tracking EMS. Sekarang tinggal menunggu apakah barang yang dikirim sesuai dan apakah lolos dari pembayaran bea cukai.

Tiga minggu total waktu yang dibutuhkan sampai barang sampai di tempat saya. Jadi sekitar 16 hari-an lah jika dikurangi waktu suplier mempersiapkan barang. Tidak ada biaya bea cukai karena nilai total kurang dari 500 $. Dan akhirnya, barang saya buka dengan berdebar.

Jumlah barang yang dikirim sesuai dengan pesanan, kualitas ternyata sama dengan barang yang beredar di tanah abang/ mangga dua, tetapi sayang, ada 3 produk yang sedikit cacat. Dilema sekali lagi menghinggapi, senang sudah ketemu jalan, tetapi kalau cacat susah juga ngejualnya. Saya ambil sisi positifnya saja. Mungkin suplier sedang kurang teliti, toh jika order di suplier lokal pun kadang kena barang cacat juga susah sekali return-nya. Niat saya untuk kembali import pun menyeruak kembali, toh barang yang sedikit cacat itu pun ternyata sudah laku di toko. Memang kalau sudah demand lebih tinggi dari supply, mudah sekali menjualnya, walau ada cacat minor.

Saya pun repeat order kali ini via sales yang cewek saja, siapa tahu lebih teliti. Order kedua dengan pola yang sama, tetapi dengan jumlah 24 pc. Barang kali ini datang dalam tempo yang hampir sama dengan order pertama. Bedanya, akal-akalan harga total 500 $ gagal dan saya terkena bea cukai. Memang saya sudah feeling bakal kena sih, berat aja lebih dari 6 kg, dibuat harga segitu pasti ada kecurigaan. Dan benar saja, barang saya dibongkar dan dikenai tarif cukai 600-ribu an. Sepertiga keuntungan jika barang terjual pun melayang.

Berarti saya harus cari cara lain agar tidak terkena cukai. Apalagi dalam rencana ke depan akan order dalam jumlah lebih banyak. Saya coba tanyakan hal tersebut ke suplier, mereka ternyata banyak rekomendasi kargo yang murah jika order dalam jumlah banyak. Yang dimaksud order dalam jumlah banyak katanya adalah jika total order lebih dari 10 kg. Saya pun menghubungi satu persatu kargo yang direkom. Kargo tersebut kebanyakan berkantor di Jakarta, punya rekanan gudang di China, dan melayani door to door juga. Total tarifnya sangat jauh dibawah pos express, dan harga sudah termasuk custome clearence.

Selanjutnya saya pun membuat order dan kali ini dalam jumlah banyak tetapi dengan menggunakan kargo. Prosenya ternyata lebih cepat sampai dibanding pos ekpress, ya terpaut 2-3 hari lah, hanya jika sudah barang sampai di Jakarta, saya harus transfer total ongkos kirimnya (dari China ke JKT dan JKT ke toko saya di Jawa). Jika dihitung-hitung, biaya cost total dengan cara ini adalah sekitar Rp. 10.000 per gram.

Saya terus melakukan order, mungkin berjalan sekitar 1.5 tahuan-an sebelum akhirnya memutuskan berhenti import setelah suply dari Jakarta menjadi lancar dan harganya lebih murah jika dibanding import sendiri. Mengapa bisa lebih murah? karena ada importir besarnya yang ambil langsung di pabrik dalam kuantitas raksasa. Bisnis pakaian ini pun memasuki era baru.

Saya sebut era baru karena harganya sangat murah, jauh jika dibanding ketika dulu import sendiri. Imbasnya, produk banjir dan harga di pasaran pun ikut turun. Turunnya pun sampai menggerus pasar produk lokal. Harga produk lokal dan import semakin dekat, jika dulu bisa terpaut ratusan ribu, sekarang hanya berjarak puluhan ribu. Sudah pasti pelanggan lokal pun beralih ke produk yang lebih bagus dengan harga murah.

Jualan pakaian lokal pun jadi tidak laku, produksi tinggal menunggu waktu stop. Dan saat itulah terasa kalau mencintai produk tanah air hanya akan menjadi sekedar slogan jika kualitas dan harga masih kalah dengan produk import.

Jika dulu masih bisa dicegah pemerintah dengan bea cukai yang tinggi, pembatasan import tertentu, sekarang sudah tidak bisa lagi karena sudah menjadi pasar bebas.